Categories
Pelajaran Hidup

Rasanya Sekolah di Luar Negeri

Home » Pelajaran Hidup » Rasanya Sekolah di Luar Negeri

Banyak yang bilang sekolah di luar negeri itu penuh dengan ketidakpastian. Apakah worth-it ? Apakah gue bakal betah? Catatan ini akan menggambarkan perasaan gue dari waktu ke waktu selama gue merantau ke luar negeri secara transparan dan detil.

Sekolah di luar negeri akan selalu mempunyai ruangan tersendiri untuk memori gue di hari nanti. Hampir 50% dari hidup gue selama ini didedikasikan di luar untuk merantau, dengan harapan untuk dapat berkontribusi terhadap kampung halaman gue, Indonesia.

Jujur, ini akan menjadi salah satu entry paling personal yang akan pernah gue bikin. But I figured this could be relevant for you as well.

Dalam catatan ini, gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengekspresikan perasaan gue dari waktu ke waktu saat sekolah di luar negeri.

Ambil popcorn kalian.

Awal mula yang hancur

Karena gue menceritakanya dari awal, pasti lo udah tau rasa deg-degan yang dialami ketika lo pertama kali melakukan sesuatu.

 Deg-degan saat awal mula itu wajar.

Gue sendiri memulai perjalanan gue ditahun 2011, saat itu umur gue baru menginjak 14 tahun, dan adek gue yang baru berumur 8 bulan. Sebagai mentan anak tunggal, jujur gue ragu untuk pergi karena gue pengen banget menikmati hidup sebagai kakak.

Jujur aja, beberapa bulan pertama gue di Singapura menyiksa banget. Semuanya harus sendiri, dan sangking magernya gue waktu itu, gue sering banget nelfon orang tua gue buat bilang

“Ujan nih, aku gausah kesekolah kali yah” (dengan nada pasif)

Jawabanya…

“Lah kan tinggal beli payung, bagaimana sih ko rehan” (“ko” disini bukan kakak laki-laki yah, kebetulan gue orang Sulawesi)

Sekolah pertama gue itu lebih mengarah ke tuition centre (les bimbel) untuk para murid luar yang tertarik untuk masuk sekolah negerinya Singapore. Gue ga suka sekolah pertama gue, makan dari itu gue punya banyak alasan buat bolos.

Hasilnya pun terbukti, saat tes masuk sekolah negeri di Singapore, semua tes gue fail.

Gue juga gapunya temen disitu. Gue dulu udah introvert, Bahasa Inggris terbatas, dan orang-orang disana udah punya groupnya masing-masing. Biasanya berdasarkan negara; gue satu-satunya dari Indonesia.

Gue pun sadar, gue dulu mempunyai terlalu banyak alibi karena gue sangat gugup tinggal sendiri. Bukan hanya itu, gue pun merasa hampa. Tapi gue yakin ini semua wajar.

Rasa pertama: Gugup dan perasaan hampa pasti akan ada

Tapi tenang, gue belajar banyak dari sisi lain;  Surviving.

Karena tinggal sendiri di negara asing dan tinggal di tempat yang jauh dari perkotaan, gue harus merubah total gaya hidup gue. Di umur 14 tahun, gue udah masak sendiri, cuci baju sendiri, cari jalan sendiri, dan masih banyak lagi.

Gue paling gasuka kalo udah masa-masa nyetrika baju, karena gue paling gabisa melipat baju dengan sempurna, kadang keranya gede sebalah, menjadi wujud pentagon pun pernah sekali.

Tapi gue suka banget masak. Walaupun dulu hanya belajar dari sekedar masak mi instant, telor atau nugget, gue suka iseng-iseng nambahin condiments. Siapa tau dapat resep baru.

Gue pun sadar, kalo ini adalah pelajaran yang sangat sulit untuk didapat.

Rasa kedua: Bangga karena bisa lebih mandiri sejak umur 14 tahun.

Pada akhirnya, gue dengan orang tua gue sepakat untuk memasukkan gue ke International School.

Disini gue percaya bahwa dalam setiap kegagalan, pasti ada makna dan maksudnya. I can never imagine myself being in Singapore government school yang super kompetitif. Dalam International School, gue dikelilingi oleh orang-orang dari negara berbeda, dan disinilah gue mulai menikmati momen gue sebagai seorang murid yang merantau.

Halaman baru, tantangan baru

I like to consider this point the actual start of my journey. Semua resmi dimulai disini, dan gue bangga bisa masuk kedalam komunitas internasional. Tapi apadaya, halaman baru sama dengan tantangan baru, apalagi keadaan gue yang sekarang berada diluar kandang.

Rasa ketiga: Tertantang berada diluar kandang

Penyesuaian pun tidak mudah. Karena belum pede, gue belum bisa berpartisipasi secara aktif saat kelas. Untungnya, banyak temen gue yang berada di posisi yang sama kaya gue; pertama kali sekolah keluar negeri, hence the shi**y english. Tapi ini membuat gue mempunyai pergaulan yang sangat terbatas di tahun pertama.

Selain itu, sekolah gue pun mewajibkan muridnya untuk lari sekitar 2.5KM setiap hari Senin. Karena gue belum fit (hingga sekarang pun begitu), gue selalu finish paling terakhir.

3 tahun perjalanan gue di sana sebagai Introvert, dan lumayan susah untuk nyambung sama orang lain. Dengan 3 teman baik, gue cuma bawel sama mereka doang.

Banyak juga momen tidak karuan dimana gue tertantang untuk mencari hobi gue. Gue ambil seni musik sampai masuk Band, hingga main Badminton saat lunch break sampai bertanding antar sekolah. Disamping itu, gue juga join Frisbee, mengajar matematika untuk kaum Down Syndrome, masih banyak deh.

Disaat ujian, gue tertantang untuk memotivasi diri untuk belajar. Karena orangnya ribet kalo belajar, gue harus belajar dari jauh hari, bukan di sekolah atau dirumah, dan kadang terlalu banyak procrastinating. Momen ini sangat gue rasakan saat ujian terakhir kelas 12.

Gue tertantang diluar Gue tertantang untuk menggunakan Bahasa Inggris, tertantang untuk merubah gaya hidup, tertantang untuk mengasah kemampuan sosial, dan tertantang untuk mencari jati diri gue. Ini adalah pelajaran yang ga ada hargnya sampai sekarang.

Peluang satu kali

Gue melanjutkan kuliah di Singapore, dengan program yang memungkinkan gue untuk melihat kerenya negara lain. Setelah menjalani 2 tahun pertama di Singapura, semester 5 pun gue akihrnya mengunjungi Perancis.

Perancis pun sangat berbeda. Beruntung gue belajar bahasa perancis karena jarang banget orang yang bisa ngomong Inggris disana.

Karena hanya satu semester disana, gue dan 2 teman gue memutuskan untuk mengunjungi suatu tempat yang sangat unik dibandingkan Perancis dan Singapore. Tempat yang membuat gue sadar bahwa yang gue liat bukan hanya didalam film.

Namanya Dolomiti.

Setelah susah payah mencari semua yang serba murah meriah, kita bertiga akhirnya berangkat dengan pesawat jam 6 pagi. 

Dari Perancis, kita terbang ke Milan, Italy, dan langsung berganti-gantian menyetir 6 jam ke wilayah Dolomites. Disini gue sadar satu hal, orang Italy kalo nyetir jauh lebih menyeramkan dari di Indonesia.

Kita stop sebentar di kota Verona, dimana gue bersikeras untuk mencoba kopi asli Verona serta makanan khas Italia.

Sampai di daerah Dolomiti sekitar jam 7 malam, kita disambut dengan hilangnya dompet teman gue yang ternyata jatoh saat kita menanyakan alamat AirBnB kita ke penduduk sekitar. 2 jam kita hilang.

Tapi semua gangguan ngga ada rasanya ketika kita selalu di sambut oleh pemandangan langka di pagi hari.

sekolah di luar negeri
Credit: Rayhan Muammar

Suasananya tenang, didampingi dengan jernihnya danau, indahnya bukit dan pegunungan di sana. Semua gue abadikan dalam suatu video (nonton disini)

Dalam momen ini, perasaan kagum gue bergejolak; akhirnya gue bisa melihat nature at its best walaupun dengan perjuangan ekstra untuk pergi kesana se hemat mungkin.

Rasa keempat: Bersyukur bisa melihat dunia dari sisi yang berbeda.

3 tahun udah berlalu, gue dan sahabat gue masi sering ngomongin pengalaman itu. Bener-bener salah satu liburan terunik gue.

Déja Vu Gembira

Sekedar konteks, selain penggila Chelsea FC, gue sebenarnya pernah ke London waktu kelas 5 SD, dan gue inget banget karena cuma gue yang suka sama suasananya saat itu. Memori ini lah yang membuat gue jadi ngefans sama kota ini.

Setelah satu semester di Perancis, dan magang kembali di Singapura, gue melanjutkan tahun terakhir S1 gue dengan student exchange di London; kota idaman gue.

Fun fact: sebenernya gue pengen ke London untuk kuliah dari awal, tapi agak mager karena jauh dari keluarga, terutama adek gue.

Tapi yang namanya jodoh pasti ga kemana; gue kembali diberikan kesempatan untuk pergi ke London.

Pengalaman gue di London pun adalah salah satu pengalaman terindah gue semasa hidup; menyebrangi sungai Thames setiap hari ke kampus, mencicipi nikmatnya kopi dan cemilan di Borough Market, hingga dicopet (coming soon).

Hubungan gue dengan kota London pun serasa semakin lengkap karena pertukaran pelajar ini. Satu hal yang gue sangat rasakan, ketika saat kelas 5 SD gue ga sabar untuk liburan, disaat student exchange, gue gasabar untuk belajar.

London adalah kota yang sangat berkharisma; setahun menetap, rasanya masih banyak tempat yang belum gue kunjungi. Disinilah gue sadar bahwa ketika lo jatuh cinta dengan suatu kota, lo bakal selalu tersenyum tanpa peduli atas dasar apa kita disana (dan walaupun gue dicopet anak berumur 16 tahun).

Rasa terakhir: I have been in love with a City

Banyak cerita seru selama gue menetap di London; mulai dari dicopet, solo travel ke kota tertua di Maroko, hingga puasa 19 jam. Semoga semua bisa gue tulis di catatan lainya.

Akhir cerita (untuk sementara)

Saat ini, gue kembali menetap di Singapura untuk gelar S2 gue (Apakah S2 itu worth-it?). Untuk sekarang, mungkin semua pengalaman diatas itu hanya sebatas memori.

Memori inilah yang gue jadikan motivasi untuk bekerja keras, hingga nantinya gue bisa kembali bernostalgia dengan orang-orang terdekat gue.

Sekolah diluar negeri bukan hanya sekedar membaca buku dan memahami teori di luar Indonesia. Banyak moral-moral berharga yang bisa diambil ketika lo berinteraksi dengan individu dari negara berbeda.

Selama diluar negeri, I questioned a lot about my environment back home. Sometimes, I wonder how would I look if I decided to stay in Indonesia. Would I be a pious scholar instead?

Semua itu hanya spekulasi yang ga akan gue temukan jawabanya. Satu hal yang pasti, gue senang dengan diri gue yang sekarang.

Thank you for reading this entry!

Don’t miss anymore entries. Subscribe now!