Categories
Pelajaran Hidup

Kita Harus Beradaptasi : Sebuah Motivasi

Home » Pelajaran Hidup » Kita Harus Beradaptasi : Sebuah Motivasi

Manusia beradaptasi. Selain kemampuan intelektual, logika, perasaan, dan lainya, beradaptasi merupakan salah satu kemampuan terpenting bagi Homo Sapiens (Manusia). Walaupun kerap di anggap enteng, adapting has never been more important in our generation right now.

Sebelum membaca catatan ini, gue mau kasih disclaimer bahwa gue bukan seorang philosopher yang mendalami hal-hal seperti ini.

Gue terinspirasi menulis catatan ini berkat buku yang sedang gue baca dan hayati, Sapiens dari Yuval Noah Harari.

Selain buku ini mengajarkan banyak sekali hal yang gue gatau mengenai sejarah dan Sains, buku ini juga masih menjadi pedoman yang sangat relevan untuk kita semua, apalagi saat ini.

Untuk yang mau tau ringkasan buku Sapiens ini, gue nemu pembahasan bagus di Medium, klik disini (Disclaimer: Buku ini bukan buat orang yang tidak ingin menerima sudut pandang baru)

Beradaptasi adalah kemampuan paling berharga yang kita semua punya, bahkan yang akan kita pernah miliki. Tetapi, karena kemampuan tersebut sering digunakan tanpa kita sadari, they are often neglected.

Kemampuan kita untuk beradaptasi akan senantiasa membantu kita dalam keadaan yang asing.

Beradaptasi dibelakang perubahan

Ketika gue mendapat kabar bahwa gue akan merantau ke Singapura sebagai anak kelas 3 SMP di tahun 2011, gue tau kalo gue belum siap.

Wajar saja, untuk pertama kalinya gue akan hidup tanpa keberadaan orang yang gue kenal, di negeri asing yang mengharuskan gue untuk berbahasa Inggris.

Beberapa minggu setelah gue pindah, gue merasakan ketakutan yang amat sangat, hingga gue sakit karena kebanyakan pikiran dan stress.

Ketika gue menulis paragraf ini sekarang, gue bingung dan kaget kenapa gue bisa bertahan disini sampai 9 tahun.

Dari seorang bocil yang dimanja selama 13 tahun; makanan dibeliin, kamar dibersihin, baju dicuciin, menjadi bocil yang harus melakukan semua itu sendiri.

Ketika manusia sibuk mengasah kemampuan baru demi menginjak anak tangga yang lebih tinggi, adaptasi sebagai suatu kemampuan kerap di anggap enteng oleh kita semua.

Ini gue sadari karena setelah 9 tahun gue merantau, gue perlu waktu yang panjang untuk menyadari perubahan yang gue alami.

9 tahun tersebut diwarnai perjalanan yang memaksa gue untuk kembali membiasakan diri.

Dari SMA ke kuliah S1

Dari Singapura ke Paris

Dari Paris kembali ke Singapura

Dari kuliah S1 ke magang

Dari Singapura menginjak London

Tanpa beradaptasi dalam setiap fase dalam hidup, baik kecil maupun besar, bagaimana jadinya sob?

Adaptasi mengakibatkan suatu perubahan dalam hidup, whether it’s for yourself, for people around you, or for the society.

Tapi apadaya yang namanya manusia. Ketika kita mengalamai suatu perubahan, apakah banyak dari kita yang akan menerimanya? Apakah semua orang akan disekitar lo bisa menerimanya?

Semua umat manusia pasti beradaptasi, dan beradaptasi berujung pada suatu perubahan. Perubahan tidak selalu buruk, tapi kerap datang setelah beradaptasi.

Buku Sapiens menegaskan banyaknya jenis jenis “manusia” dimasa lampau. Tapi kenapa kita (Homo Sapiens) menjadi satu-satunya spesies manusia yang hidup saat ini?

Adaptasi

Bukan otot.

Mungkin yang gue contohkan sejauh ini adalah pengalaman beradaptasi yang murni dari diri gue sendiri. Tapi poin dari catatan ini akan jauh lebih signifikan dari itu.

Beradaptasi massal di era sekarang

Mungkin catatan ini akan lebih mudah dimengerti ketika lo sudah baca catatan pertama gue (motivasi gue membuat blog ini).

Semua berawal dari pengaruh COVID-19 ke hidup gue.

Di waktu-waktu seperti inilah gue belajar banyak; no matter what, there will always be obstacles that are much worse.

Dan gue sangat-sangat yakin banyak sekali dari kita yang terkena dampak negatif karena COVID-19 ini.

Ada yang kehilangan pekerjaan, banyak pula yang diselimuti ketakutan.

Tapi apakah itu alasan buat kita untuk menerima nasib dan terdiam?

Iya dan tidak.

Nasib sudah pasti harus kita terima; karena sudah terjadi.

Janganlah pernah diam saja dan menerima. Lakukan hal lain sebagai awal lo untuk beradaptasi.

Tenangkan dan yakinkan diri lo bahwa it’s not the end of the world (memang bukan), dan anggap waktu ini sebagai suatu peluang untuk lo mencoba hal lain.

Ga ada yang pernah tau. What if talenta lo adalah membangun usaha sendiri? Lo ga akan pernah tau kalo lo ngga coba.

What if diberhentikan perusahaan adalah sebuah blessing in disguise? Lo ga akan pernah tau kalo lo ga berpikir secara positif.

Ambil positifnya saja. Kenapa?

Karena manusia seperti kita sangat dikenal dengan kemampuan kita untuk beradaptasi.

Melihat kebelakang, demi motivasi kedepan.

Mungkin banyak dari lo para pembaca yang kaget dengan situasi di dunia yang sangat amat tidak stabil saat ini.

Selain COVID, kita ada tensi between the US and China.

Kita ada demo besar-besaran mengenai BlackLivesMatter.

Adapun Raul Lemos dengan Aurel.

Tapi lo juga harus ingat, masalah juga tidak kalah besarnya di waktu-waktu sebelumnya.

Krisis 2008

Krismon 1997

Perang dunia satu dan dua

Great Depression di 1929

Hingga Black Death (Bubonic Plague) pada era 1300an

Kemana manusia? Masih disini..

Itulah peran adaptasi.

Manusia beradaptasi demi mendapatkan pembelajaran yang diharapkan akan membuat hidup mereka lebih baik lagi kedepanya.

Untuk lo yang baru kena masalah, tolong jangan menyerah.

Untuk lo yang baru di PHK, tolong jangan menyerah.

Gue minta tolong untuk jangan menyerah.

Untuk lo yang terkena dampak COVID both physically and mentally, tolong jangan menyerah.

Bukan karena lo dapat beradaptasi, tapi karena 7,8 Milyar orang di dunia ini sedang beradaptasi.

Jangan diam saja

Banyak dari kita yang menunggu peluang untuk datang.

Nih gue kasih satu hal yang akan berdampak jauh lebih baik untuk lo.

Daripada menunggu, jemputlah peluang tersebut.

Peluang tidak datang dengan sendirinya. Peluang tidak datang hanya dengan berdoa.

Setiap doa harus di buktikan dengan kerja keras. Kalo dalam Islam, istilahnya ikhtiar, berdoa dan tawakal.

Jikalau lo berharap peluang akan datang hanya dengan sekedar berdoa, semua orang di dunia akan beragama.

Dengan adanya usaha dan doa ketika susah, adaptasi will do the rest of the work.

Ingat… Berusahalah.

Ingat… Manusia Beradaptasi.

Thank you for reading this entry!

Don’t miss anymore entries. Subscribe now!