Categories
Pelajaran Hidup

Gelar S2 itu Worth-It? Ini Pengalaman Gue

Home » Pelajaran Hidup » Gelar S2 itu Worth-It? Ini Pengalaman Gue

S2 sudah mulai menjadi fenomena, ada yang ogah dan ada yang mendukung. S2 bukan hanya sekedar mendalami ilmu teori untuk otak lo. Sehabis membaca catatan ini, gue berharap akan ada lebih banyak individu yang menangkap nilai fundamental dari sebuah gelar S2.

Pamer Gelar S2

Gue akan mengawali catatan hari ini dengan pengakuan kontroversial gue; gue bingung kenapa banyak orang di Indonesia yang suka memamerkan gelarnya Social Media.

Contohnya di Instagram: Nama Depan <spasi> Nama Belakang <spasi> BSc, MSc (Emoji mahkota)

Memang ga ada yang salah, tapi dari dulu gue sangat bingung kenapa mereka memutuskan untuk meluangkan 5 menit dari waktu mereka untuk menulis “BSc, MSc”; 4 menitnya untuk mencari emoji yang tepat.

Ternyata oh ternyata, setelah gue selesai Master, gue juga jadi kepengen…

Dan sekarang gue sudah mulai mengerti kenapa; karena rasa bangga, ingin di perhatikan, dan pastinya itu adalah sebuah Unique Selling Point buat kita.

Tapi untuk gue, itu bukan sesuatu yang harus gue lakukan, jadi sampai sekarang gue belum mengedit nama Instagram gue, dan semoga saja ga akan.

Apa Rasanya Mengambil S2?

Mengambil gelar S2 diluar negeri adalah pengalaman yang sangat unik untuk dijalani. Benyak pertanyaan pertanyaan yang muncul di benak gue.

Apakah otak gue bisa keep up?

Se arogan apakah rekan gue? (gue memakai kata rekan karena waktu itu gue gatau apakah S2 adalah tempat untuk berteman)

Untungnya, ngga ada yang perlu dikhawatirkan. Semuanya berjalan dengan baik, bahkan gue mengenal temen baik gue sekarang ya saat mengambil gelar S2 ini. Ada yang seumuran sama gue,ada yang udah memasuki 31 tahun.

40 murid yang berasal dari 13 negara berbeda.

Untuk sisi akademik, sebenarnya tidak terlalu susah untuk gue, tapi mengambil gelar S2 akan sangat menguras tenaga otak lo.

Kenapa? Karena banyak sekali ilmu dan diskusi yang memaksa gue untuk menggunakan critical thinking skill. Apalagi banyak dari mereka yang sudah berpengalaman.

Tapi gue belajar sangat banyak dari teman-teman gue, dan dari pengalaman gue secara keseluruhan.

Di catatan ini, gue akan membagikan apa keuntungan yang gue dapat dari mengambil gelar S2 di luar negeri. Semoga berguna untuk antisipasi.

Pengalaman Berharga Saat S2

1. Bertukar pikiran dengan orang yang berpengalaman

Sesaat sebelum S2 gue dimulai, gue deg-degan. Gue merasa jauh lebih inferior dibanding rekan-rekan gue nantinya. Pasti mereka udah pada punya pengalaman kerja yang mumpuni. Rasa deg-degan itu bertambah karena gue memutuskan untuk stalk beberapa dari mereka via LinkedIn (Add LinkedIn gue disini)

Tapi, dari sebelum gue masuk S2, gue udah ngebangun mindset untuk jangan cuma belajar dari mata pelajaranya aja, tapi juga dari pengalaman dan orang-orang disekitar gue.

Karena dorongan dari mindset gue, semuapun berubah karena rasa penasaran gue yang membuat gue menjadi lebih sosial. Rasa deg-degan gue pun hilang ketika gue sadar bahwa everyone is chill.

Dengan ini, timbulah rasa pede gue (yang kadang-kadang sampai kepedean). Rasa pede ini gue gunakan untuk bertukar pikiran dengan mereka semua. Menurut gue, momen bertukar pikiran tersebut adalah momen dimana gue bisa berlatih untuk lebih dewasa, dan ini adalah peluang yang sangat langka dalam hidup.

Bertukar pikiran juga membuat gue belajar banyak tentang sudut pandang mereka tentang isu global. Benar, sudut pandang terhadap isu global pun bisa berbeda, dan disinilah gue sadar bahwa Hofstede Cultural Dimensions sangatlah relevan.

Bukan hanya berpengalaman, tapi mereka juga datang dari negara-negara berbeda. Pengalaman ini lah yang membuat gue banyak belajar untuk socialise with someone who is entirely different from you

Emang apa bagusnya berinteraksi dengan mereka?

Kalo lo berlatih untuk bertukar pikiran dengan orang-orang berlatar belakang berbeda, secara ngga sadar, lo melatih kemampuan lo untuk “membaca” personality mereka.

Dengan adanya skill untuk melihat personality, lo bisa jadi lebih peka terhadap apa yang mereka suka dan tidak suka, dan ini adalah salah satu hal penting untuk menjadi seorang pemimpin yang assertive.

Assertive?

Singkatnya, assertive itu:

Tegas, tapi ngga bossy.

Berkontribusi, tapi juga active listening.

Lo pede terhadap kemampuan lo, tapi juga pede terhadap kemampuan rekan lo.

Percayalah, kemampuan ini akan membuat lo mempunyai percaya diri yang lebih besar, karena ini semua yang gue alami.

Buktinya, sangking kepedeanya, gue nekat menulis blog ini dengan Bahasa Indonesia.

2. Networking

Sebenernya hal ini sangat mirip dengan poin sebelumnya; masih mengarah kedalam interaksi.

Dalam pengalaman gue mengejar gelar S2 di sekolah bisnis, gue dibanjiri dengan peluang networking. Dari networking dengan teman satu jurusan, beda jurusan, hingga external networking event (kebetulan gue Student Ambassador).

Selain melatih kemampuan gue berinteraksi, gue belajar banyak mengenai awal mula rekan gue meniti karir mereka. Sebagai seorang anak muda, gue pun terinspirasi dan termotivasi.

Menurut gue, networking itu sangat penting untuk masa depan kita karena selain manusia yang layaknya makhluk sosial, networking dapat membuat hidup kita jauh lebih mudah, terutama disaat yang kita ngga pernah tau.

I am not talking about asking them to lend you money. This is a huge no.

Maksud gue, professional network lo (ataupun personal) bisa menjadi sebuah pintu untuk mengawali karir. Lo bisa berinteraksi dengan mereka untuk mencari suatu peluang pekerjaan, ataupun peluang bisnis.

Tapi inget, misalkan lo sedang berada dalam networking event, jangan sampe alasan utama kalian untuk networking adalah hanya untuk memenuhi kebutuhan lo. Kita ngga akan pernah tau apa yang ada di pikiran lawan bicara kita nantinya.

Saat networking, bawa nyantai aja. Miliki mind-set bahwa lo ingin membangun sebuah network berkualitas untuk jangka panjang, yang kelak akan menguntungkan kedua belah pihak.

Gue harus ulangi lagi, plis plis plis jangan mempunyai mind-set untuk memenuhi kebutuhan lo semata saat networking. Percaya karena gue pernah begini saat S1, dan gue sadar perbedaan pembawaan diri yang sangat kontras.

Of course, people will value meaningful conversation than a desperate ones. They can smell desperations from a mile away.

Jadi, mengambil gelar S2 akan lebih mengekspos lo terhadap orang-orang yang sudah lebih professional dalam bidang lo, dan disinilah waktu yang tepat untuk belajar dan expand your network.

3. Melatih Professionalism

Kita udah ngebahas pentingnya networking dan bertukar pikiran dengan orang-orang baru. Sejauh ini mungkin gue terlalu fokus sama hal sosial yang bisa didapat.

Ketika kita mengejar gelar S2, selalu inget bahwa kita berada di suatu komunitas yang berisi professionals. Disinilah peluang kita untuk berlatih bersikap lebih professional.

Maksudnya bagaimana? Definisi profesional disini lebih mengarah ke sikap lo dalam dunia corporate. Beberapa contoh skill professional yang bisa kita dilatih dalam gelar S2 antara lain adalah presentasi dan pembawaan diri.

Gue dulu (sampai sekarang) mempunyai stage anxiety, dimana gue akan gelisah dan stres sebelum gue presentasi.

Tapi dengan melatih cara presentasi gue melalui pengalaman, gue ngga hanya mempertajam skill presentasi gue, tapi menjadi snowball effect ke public-speaking skill, dan rasa percaya diri gue terhadap orang yang gue ngga kenal.

Sama halnya dengan pembawaan diri lo. Hal hal sederhana seperti tegak, senyum dan pergerakan tangan saat berbicara sangatlah penting.

Kenapa? Karena it’s all about how they see you!

Mungkin banyak yang percaya kalo dalam wawancara pekerjaan, semua melihat prestasi lo. Kalo menurut gue, cara membawa diri lo lah yang lebih penting.

Gue pernah menjalankan salah satu job interview paling sulit di salah satu perusahaan telekominikasi terbesar di Singapore.

Pengalaman tersebut mengajarkan bagaimana rasanya dibombardir pertanyaan seperti “Berapakah Salmon Sushi yang habis dimakan oleh orang Jakarta dalam setahun?”

Tapi dengan kepedean, dicampur dengan critical thinking, serta multitasking, gue selamat dari pertanyaan tersebut.

Kenapa gue bisa tau bahwa gue selamat?

Ya sudah tau pasti mengarah kemana jawabanya hahahaha.

At least, ini semua terbukti untuk diri gue sendiri, karena dengan kepercayaan diri gue untuk membawa diri, gue bersyukur karena mendapat tawaran dari banyak perusahaan di Singapore (But if you’ve read my intro to the blog, you know what happened next. Thanks pandemic!)

Mengambil S2 bukan hanya sekedar mendalami ilmu

Setidaknya untuk gue, tujuan S2 gue bukanlah sepenuhnya untuk mendalami ilmu, tapi untuk memasuki perjalanan dimana gue bisa menjadi individu yang lebih baik dalam bidang profesional.

S2 mengajarkan gue skill skill teknikal dalam bidang gue, tapi ia juga mengasah kemampuan lo untuk bisa melihat suatu hal dari lebih banyak sudut.

Jadi kalo gue ditanya “Worth it kah?” Jawabanya tergantung harapan individu masing-masing.

Untuk gue, yes it was.

Btw, gue ambil S2 di bidang Marketing Management.

Thank you for reading this entry!

Don’t miss anymore entries. Subscribe now!