Categories
Pelajaran Hidup

Dream Brinjal: Dilema Dibelakang Layar

Home » Pelajaran Hidup » Dream Brinjal: Dilema Dibelakang Layar

Sebagai penulis amatir yang memulai Dream Brinjal blog, gue menulis ini dalam dilema.

“Kalo gue mau bikin blog, should I write in English or Bahasa Indonesia?”

Apakah Bahasa Indonesia gue yang terlalu baku ini akan bisa menjadi sebuah Unique Selling Proposition ? Atau malah bikin orang ogah baca? Gue gak akan tau sampai gue coba. Satu hal yang pasti, pokoknya gue mau mulai bikin blog yang berguna untuk masyarakat Indonesia… semoga aja.

Masalahnya cuman satu, tulisan gue, mau Inggris apa Indonesia, sama-sama ga ada yang bener sempurna.

Terus kenapa lo nulis?

Dilema gue yang sebelumnya datang dari dilema gue yang jauh lebih besar.

Dilema terhadap jalur hidup gue.

Gue ceritain…

Disaat gue menulis ini, dunia masih dihantui pandemik, dan sebagai seorang 22 tahun yang baru ngerasain dahsyatnya pengaruh krisis dan pandemik, mental gue sedang diuji.

Gue yang tinggal di Singapura, saat ini sedang menjalankan Circuit Breaker sejak 7 April, dimana orang-orang gaboleh keluar rumah except for essential needs (e.g food and groceries).

Keadaanya makin parah. Hari ini ada 1,111 kasus, kemaren 1,400 lebih. Gue akuin sih 90% kasus itu berasal dari migrant construction workers. Tapi ini jadi salah satu alasan keputusan pemerintah Singapura untuk memperpenjang dan memperketat Circuit Breaker, dari yang awalnya kelar tanggal 4 May, jadi 1 Juni. Fakta ini mengintimidasi mental gue.

Dilema pun berlanjut. Siang tadi, gue dapet kabar kalo calon perusahaan magang gue memutuskan untuk kembali menyatakan ketidakyakinan mereka untuk merekrut gue karena pandemik ini. Ngga kok gue gasalah nulis, mereka beneran kembali menyatakan ketidakyakinan mereka, untuk yang kedua kalinya. Fakta ini menghancurkan hari gue.

Gue pun lekas bersedih-sedih dikamar, merenung karena keliatanya semua balik lagi ke 0. Kerjaan ga dapet, perpisahan sama temen gabisa, keluarga pun di ibu kota. Semua ga ada yang sejalur.

Ok… Mungkin cerita barusan ga menjawab pertanyaan tadi.

Kenapa gue memutuskan untuk menulis? Apa hubunganya sama semua ini?

Gue bingung sama kata “motivasi” yang terkadang gatau datengnya darimana. Ada yang bilang motivasi muncul selang habisnya secangkir kopi, ada yang bilang ia muncul sehabis kita di compliment sama bos, adapun yang datang karena besarnya komitmen untuk mencapai tujuan. Untuk gue pribadi, Motivasi gue sekarang muncul after I took all these negativities in, praising and indulging it.

Antagonis?

Hahahaha Ngga kok..

Jadi, ada apa di Dream Brinjal blog?

Gue pengen buat sesuatu yang berguna buat kalian. 9 tahun gue merantau, mayoritas pelajaran yang didapet adalah pelajaran hidup, dan pelajaran inilah yang membuat sebuah brinjal jadi seorang brinjal.  Menurut gue, mengintrospeksi gaya hidup lo sejak umur 20 tahun (or less), untuk 10 tahun kedepan, akan menjadi momen-momen dalam hidup lo yang paling menentukan.

Emang lo siapa ngajar-ngajar?

Gue bukan guru yang mendasarkan ajaranya dengan teori. Gue bukan orang-tua yang mendasarkan ajaranya dengan pengalaman. Gue adalah seorang brinjal yang mendasarkan ajaranya dengan relevansi.

Bukan “I’ve been there”, tapi “I am currently here”,

Bukan “You will get there”, tapi “All of us will get there

Dalam Dream Brinjal blog, gue bakal berbagi pengalaman hidup dalam bentuk insights. Gue harap pengalaman gue bisa menjadi referensi lo untuk introspeksi diri, khususnya dalam bidang keuangan, presentasi diri dan general insights.

Inget, gue tidak merasa bahwa yang gue bilang itu selalu benar. Semua yang gue bagikan ke kalian itu murni dari pengalaman gue sendiri, baik nikmat dan siksaanya.

While I wrote this, I have decided that I will use both Bahasa and English to write. Gue bakal pake bahasa Inggris dalam keadaan darurat seperti:

  1. Kehabisan kosa kata
  2. When I’d like to emphasize myself deeper
  3. Kalo gue mau

And now for the biggest question, kenapa brinjal?

Thank you for reading this entry!

Don’t miss anymore entries. Subscribe now!